Sunday, April 11, 2010

Risiko Economics Bubbling Baru di Indonesia

Oleh Iwan Cahyo
Praktisi dan analis ekonomi

Hampir sebagian besar analis memprakirakan bahwa IHSG dalam jangka pendek mampu sentuh rekor tertingginya.
Target angka yang beredar ada di kisaran 3000, memang angka tersebut lebih bersifat prediksi kualitatif dengan menggunakan komparasi pada berbagai data yang tersedia dan bukan berdasarkan hasil perhitungan matematis murni.
Tetapi prediksi tetaplah prediksi dimana sering kali akurasi dapat meleset baik dalam hitungan waktu maupun angka dimaksud.
Di tanggal 7 April kemarin, IHSG telah menyentuh 2916.11 yang menjadi rekor tertinggi IHSG sepanjang masa. Ini merupakan prestasi yang patut dibanggakan bagi bangsa kita, akan tetapi merupakan indikasi pula bahwa telah terjadi gelembung ekonomi (bubble)di Bursa Efek Indonesia telah tercipta dalam waktu singkat.
Meski sampai hari ini dampak dari gelembung ekonomi masih diperdebatkan di antara sekolah-sekolah bermahzab pemikiran ekonomi.
Diantara pemikiran yang berkembang, yang mengulas tentang Economic Bubbling, salah satu penyebabnya adalah kebijakan moneter yang ekspansif , yaitu penurunan suku bunga yang agresif, "bailout" sistem keuangan, penguatan Rupiah, rendahnya tingkat inflasi dan sangat mudahnya aliran masuk capital ke dalam sistem keuangan Indonesia
Sederhananya ialah ketika suku bunga akan turun, investor cenderung menghindari untuk menempatkan modal mereka ke dalam rekening tabungan yang ada di Bank. Namun sebaliknya, investor cenderung makin meningkatkan modal mereka bahkan bila perlu sampai meminjam dari bank (karena rendahnya suku bunga) lalu menginvestasikan modal leverage dalam aset keuangan seperti saham dan properti.
Tanpa adanya keseimbangan pertumbuhan ekonomi, investasi di sektor riil dan investasi di pasar modal, maka kenaikan IHSG yang terlalu mencolok menurut saya hanyalah refleksi dari adanya capital inflow dalam jumlah signifikan yang mengalir dalam bentuk investasi portfolio (on paper)..
Di Wall Street AS, jika dilihat dari kinerja indeks S&P 500 telah berada di zona jenuh beli  (overbought) di 10 sektornya maka berpotensi terjadi koreksi negatif sangat besar.
Dengan kondisi perekonomian AS yang masih jauh dari pemulihan maka posisi indeks S&P500 hanyalah cerminan bubble yang tercipta dari rendahnya suku bunga bank di AS dan sempitnya pilihan investasi yang tersedia di sektor riil.
Ini kemudian menciptakan speculative bubbles yang dapat meletus kapan saja di beberapa bulan mendatang.
Thus, dengan melihat situasi perekonomian di Eropa saat ini terutama dalam kaitan ekonomi Yunani dan posisi valuasi Euro terhadap Dolar AS serta Swiss Franc, maka situasi pasar keuangan di Eropa masih rentan terhadap risiko koreksi reversal secara signifikan.
Pelaku pasar keuangan global juga tengah menanti hasil perundingan antara China dan AS yang menginginkan adanya revaluasi Yuan dalam waktu terdekat.
Menurut saya, pasar Asia khususnya di Indonesia memang menjanjikan prospek yang baik untuk beberapa tahun ke depan. Namun demikian pasar keuangan global tetaplah bagian yang terintegrasi sehingga volatilitas di Wall Street cenderung akan membawa pengaruh terhadap kinerja pasar di Asia.
Untuk saat ini masih sangat dibutuhkan kehati-hatian di dalam menyikapi kenaikan IHSG dan menyikapi volatilitas pasar yang akan terjadi.